Friday, February 12, 2016

Jawa Tengah Akan Diguyur Hujan Sore Hingga Malam Nanti

Jawa Tengah Akan Diguyur Hujan Sore Hingga Malam Nanti

 

 

Stasiun Meteorologi Ahmad Yani merilis informasi prakiraan cuaca Jateng, Sabtu (13/2/2016).
Berdasar pengamatan citra satelit pukul 05.00, umumnya cuaca Jawa Tengah diprediksi turun hujan mulai sore hingga awal malam hari.
"Potensi hujan lebat akan turun di wilayah Brebes, Slawi dan Majenang pada sore hari atau awal malam," tutur Prakirawan Cuaca yang bertugas, Agus Triyono.
Pantauan cuaca di Semarang pada umumnya berawan di pagi hari. Mulai sore atau awal malam hari, diprediksi akan turun hujan berintensitas ringan hingga sedang. Suhu udara berkisar 26-32 derajat celcius, sedangkan kelembaban udara 70-90 persen.
Tinggi gelombang di Laut Jawa dipantau kurang dari satu meter. Sedangkan Laut Selatan sekitar 0,75 hingga 2,5 meter.
Informasi prakiraan cuaca ini berlaku 12 jam mulai pukul 07.00 hingga 19.00. Peringatan cuaca buruk akan selalu diinformasikan setiap saat.

Wednesday, February 3, 2016

Kampung Kauman Semarang sebagai “Kampung Al Qur’an”

Kampung Kauman Semarang sebagai “Kampung Al Qur’an”

Sejumlah ulama dan tokoh mayarakat yang ada di wilayah Kauman Semarang, dalam waktu dekat akan mencanangkan kawasan yang penuh nilai sejarah dan Islam ini sebagai “Kampung Al Qur’an”.  Salah satunya diutarakan oleh Ir. H. Khammad Ma’sum selaku pengasuh Ponpes Raudhatul Qur’an, Kauman Glondong, Semarang.
Menurut Ma’sum, hal itu direncanakan dilakukan bersamaan dengan kegiatan ‘”Khataman Al Qur’an Binnadhor dan Bilghoib” yang diselenggarakan oleh Ponpes Raudhatul Qur’an, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad S.A.W 1437 H, pada hari Sabtu (6/2) mendatang, mulai pukul 18.00 WIB, di Jalan Kauman Semarang.
“Nanti akan kita canangkan di depan Walikota Semarang terpilih Hendrar Prihdadi yang Insya Allah akan hadir dan PJ Walikota Semarang Tavip Supriyanto,” kata Ma’sum ditemani H. Zaenal Arifin, SE selaku Bendahara II, saat menerima sejumlah wartawan di ruang utama Ponpes Raudhatul Qur’an, Rabu (3/2) siang.
Dalam khataman nanti, juga akan dihadiri Prof .Dr. KH Said Agil Sirojd, MA yang juga sebagai Ketua Umum PBNU sebagai pembicara atau penceramah. Diperkirakan, sebanyak tiga ribu jamaah akan menghadiri acara Khataman dan peringatan Maulid itu.
“Kami menyedikan tempat 2500 jamaah, tapi biasanya yang datang lebih, bisa mencapai tiga ribuan jamaah. Untuk peserta khataman Bilghoib ada 16 santri, 5 diantaranya putra dan 11 putri. Sedangkan yang Binnadhor ada 31 Santri. Putra ada 7, yang putri ada 24,” ujar Ma’sum.
Dikatakan Ma’sum, wacana ini dilatarbelakangi oleh keberadaan beberapa Pondok Pesantren di wilayah Kauman Semarang yang sejak lama telah mencetak para ‘hafidz’ dan ‘hafidzoh’ (penghafal Qur’an). Bahkan, Ponpes Raudhatul Quran ini sudah berdiri sejak tahun 1952.
“Harapannya kedepan, akan ada orang-orang Kauman yang bisa mengajar Al Quran. Setelah terbentuk ‘kampung Al Qur’an’ ini, nantinya santri-santri yang belajar dan menghafal Al Qur’an tak hanya di Ponpes saja, melainkan bisa di rumah-rumah penduduk Kauman,” harapnya.
Selain itu, dalam acara yang sama juga diselenggarakan khitanan masal yang diikuti oleh belasan anak. Terkait pelaksanaanya, acara tersebut semula digelar tiap setahun sekali. Karena jumlah peminat dan jamaah tiap tahun semakin meningkat, maka untuk saat ini digelar tiap dua tahun sekali.
“Karena kami harus menutup jalan Kauman, yang mana disitu banyak puluhan toko atau pusat kegiatan perekonomian. Sehingga kami juga perlu mempertimbangkan dari berbagai aspek. Untuk persiapan ini saja, Jumat malam sudah dilakukan penutupan,” kata anak dari Almarhum KH Turmudzi Taslim, pendiri Ponpes Raudhotul Quran itu.
Tentang sejauh mana wilayah yang dicanangkan sebagai “Kampung Al Quran” ini, sambung Ma’sum, meliputi Masjid Agung Semarang (MAS) atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Agung Kauman, hingga perempatan Jalan Kranggan Semarang.
“Kami akan fokus di wilayah tersebut, namun demikian bukan berarti diluar itu tidak dianggap. Silahkan yang merasa dan berkeinginan untuk mencetak santri penghafal Qur’an, berhak mengklaimnya,” tambanya.
Diceritakan Ma’sum, dahulu pada tahun 1981, Ponpes Raudhatul Qur’an ini belum mempunyai banyak gedung. Meski demikian, saat itu, sudah ada santri yang ingin menghafal Al Qur’an. Lantaran keterbatasan fasilitas, membuat para santri harus pulang pergi dari tempat asal menuju Pondok Pesantren.
“Saat itu, belum mempunyai banyak tempat untuk menampung para santri. Padahal tempat tinggal atau asal mereka jauh-jauh, bahkan ada yang dari Kalimantan dan Sumatra,” tutur Ma’sum.
Seiring berkembangnya waktu, pada tahun 1985, mulai dibangun beberapa gedung yang difungsikan untuk tempat tinggal para santri. Hingga saat ini, tercatat Pondok ini memiliki 16 gedung atau Pondok yang berada terpisah antara gedung satu dengan yang lainnya, namun masih berada di wilayah yang sama. Jumlah pondok itu, berdiri tepatnya di dua Kelurahan, yakni Kelurahan Kauman dan Kelurahan Bangunharjo.
“16 gedung itu merupakan tanah wakaf semua, kecuali yang ini (gedung utama). Bahkan ada yang memwakafkan dengan memberikan rumah, kemudian diratakan menjadi tanah, lalu dibangun kembali menjadi gedung baru. Gedung-gedung di pondok ini, Meski letaknya tidak berdekatan tapi dengan nama yang sama, yaitu Raudhotul Qur’an,” jelasnya.

 

Puluhan Wanita Cantik di Solo Hentikan Mobil demi Sosialisasi Bahaya Kanker

Puluhan Wanita Cantik di Solo Hentikan Mobil demi Sosialisasi Bahaya Kanker

Puluhan wanita cantik berbaju kuning terlihat mencoba menghentikan ratusan mobil yang tengah memadati Jalan Slamet Riyadi, Solo, Kamis (4/2/2016) pagi.

Saat mobil berhenti sejenak, para wanita ini langsung memberikan buku kecil beserta coklat kepada para pengemudi mobil.
Para wanita ini, hampir seluruhnya merupakan dokter, dan beberapa lainnya merupakan istri para dokter yang sedang membagikan buku diteksi dini penyakit kanker.
"Kami dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Solo, dokter di RSUD dr Moewardi serta ikatan istri para dokter sedang memperingati hari kanker se-dunia setiap tanggal 4 Februari," ujar anggota bidang pelayanan sosial YKI, dr Desi Mayasari.
Dia mengatakan penyakit kanker di dunia jumlahnya sangat banyak. Bahkan meskipun penderita penyakit HIV/Aids digabungkan dengan pemderita penyakit lainnya belum dapat menandingi jumlah orang yang mengidap penyakit kanker.
"Yang paling tinggi yakni kanker serviks dan kanker payudara. Bahkan hampir setiap menit, satu orang di dunia meninggal dunia karena dua penyakit tersebut," sambungnya.
Dokter spesialis paru RSUD dr Moewardi, dr Dewi Makhabah mengatakan kalau perlu deteksi sedini mungkin supaya penderita kanker dapat disembuhkan.
"Penanganan yang cepat dan tepat wajib dilakukan kepada penderita kanker. Jadi masalah waktu sangatlah penting bagi penyakit kanker dan juga jangan sembarangan mengobati penyakit ini di pengobatan alternatif, sehingga penanganannya harus tepat," paparnya. (*)

 

Inilah Sebab Hujan Es Muncul di Sleman dan Magelang



Inilah Sebab Hujan Es Muncul di Sleman dan Magelang
Inilah Sebab Hujan Es Muncul di Sleman dan Magelang. Munculnya fenomena hujan Es yang melanda Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang dan sebagian wilayah Kabupaten Sleman DIY pada hari Senin sore, 25 Januari 2016 patut diwaspadai, hal itu disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) Yogyakarta.
“Potensi hujan es ini masih memungkinkan terjadi kembali karena konsentrasi awan Cumulonimbus,” ujar Koordinator Operasional Pos Klimatologi BMKG Yogyakarta, Joko Budiono, Selasa, 26 Januari 2016.
Menurut petugas BMKG yang berada di Kabupaten Magelang hujan es yang disertai angin kencang di Kecamatan Srumbung dan Kecamatan Dukun berakibat pada tumbangnya pohon dan tertutupnya akses jalan serta menimpa rumah warga, bahkan diwilayah Kecamatan Dukun beberapa genteng rumah warga beterbangan seperti di Desa Ngargomulyo, Desa Kalibening, Desa Ngargosoko dan Desa Tegalrandu.
“Hujan es juga terjadi di Wonokerto, Sleman, dan sekitar lereng Merapi,” ujar Joko.
Data dari Komandan Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Daerah DIY, Pristiawan menyampaikan bahwa hujan yang membawa hujan es terjadi sekitar pukul 14.30 pada hari Senin, 25 Januari 2016 yang menerjang sisi Utara dan Timur kecamatan Turi Kabupaten Sleman.

Kerusakan

Ada tiga Desa di Kecamatan Turi yang terkena dampak, ada 32 titik pohon tumbang, bangunan rusak ringan 15 unit, rusak sedang lima unit dan rusak berat satu unit, dan berdampak pada 13 Kepala Keluarga, namun tak ada korban luka maupun korban jiwa, kerusakan lain  juga terdata seperti kerusakan kabel listrik PLN, kandang ternak di lima lokasi, kerusakan genteng di tujuh titik, dan satu titik rusak atap asbes. Untuk di Kecamatan Tempel, Hujan deras beserta butiran es menimpa dua desa dengan dua lokasi pohon tumbang, tetapi tidak menimbulkan kerusakan.
Sedang di Kecamatan Pakem, Sleman hujan lebat menimpa satu desa dengan menimbulkan kerusakan tiga bagunan rusak ringan. “Hujan Senin kemarin juga menumbangkan pohon di enam titik Kecamatan Sleman, Ngaglik, dan Prambanan,” ujar Pristiawan. Untuk di Kecamatan Prambanan, satu warga di rawat jalan di RSUD Prambanan karena mengalami syok saat hujan es terjadi.
Awan Cumulunimbus menjadi penyebab terjadinya fenomena hujan es, seperti yang disampaikan oleh BMKG. Awan ini merupakan awan yang pertumbuhannya vertikal atau puncak awannya tinggi sehingga bagian atas awan mempunyai suhu minus yang berakibat kandungan air berwujud kristal es. “Es ini bisa jatuh karena terpental oleh petir atau karena faktor angin (golakan) turbulensi yang terjadi di awan itu,” ujar Koordinator Operasional Pos Klimatologi BMKG Yogyakarta, Joko Budiono.
Menurut Joko, Potensi berulangnya hujan es masih sangat tinggi karena masih musim hujan, potensi awan Cumulunimbus pun masih ada terutama pada siang dan sore hari. “Perlu ditingkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama di akhir Januari hingga Februari, karena akan memasuki puncak musim hujan,” ujarnya. (den)

Angin dan Hujan Es Rusak Belasan Rumah di Magelang



Angin dan Hujan Es Rusak Belasan Rumah di Magelang

Angin dan Hujan Es Rusak Belasan Rumah di Magelang

Hujan es disertai angin kencang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (18/3/2014). Akibatnya, belasan pohon tumbang dan sebagian di antaranya menimpa rumah warga.
Informasi yang dihimpun Kompas.com, peristiwa itu terjadi di sekitar Kecamatan Mungkid, Kecamatan Mertoyudan, Kecamatan Muntilan, Kecamatan Salam, dan Kecamatan Ngluwar. Zaenal Arifin, warga yang juga petugas SAR Kabupaten Magelang, mengatakan, dia merasakan hujan es sejak sore.
Saat itu, Zaenal mengatakan bahwa dia sedang piket di kantor Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang di kawasan Mungkid. "Hujan terlihat jelas di teras kantor, halaman, dan mobil. Kira-kira (butiran esnya) sebesar kelereng," ujar dia.
Data sementara BPBD Kabupaten Magelang menyebutkan, tiga rumah rusak tertimpa pohon yaitu milik Ahmad Warsito di Dusun Gemampang dan Mangku Sutrisno di Dusun Gedolon, serta milik Mundakir, warga Dusun Karangsanggrahan, Desa Plosogede, Kecamatan Ngluwar.
"Rumah Ahmad Warsito tertimpa pohon rambutan sementara rumah Mangku Sutrisno tertimpa tiga pohon sekaligus," ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo. Dia mengatakan, BPBD dibantu tim SAR sudah mendatangi lokasi dan memindahkan pohon yang menimpa rumah warga.
Namun, hingga Selasa malam masih ada beberapa lokasi yang belum rampung dibersihkan karena besarnya pohon yang roboh. Pembersihan pohon tumbang itu butuh gergaji mesin untuk memotong-motong pohon menjadi potongan yang lebih kecil.
Selain itu, cuaca juga tak terlalu mendukung pembersihan lokasi itu. "Hari sudah gelap, kami akan lanjutkan besok pagi," ujar Joko.
Selain rusak tertimpa pohon, imbuh Joko, ada belasan rumah yang juga rusak karena tiupan angin kencang. Kerusakan terbanyak terjadi di Dusun Sabrangkali, Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar; dan di Dusun Salakan, Desa Sirahan, Kecamatan Salam.
"Sementara ini belum ada laporan korban jiwa. Namun rumah warga yang mengalami kerusakan diperkirakan masih banyak. Kami lanjutkan pendataan dan evakuasi Rabu (19/3/2014) pagi. Kami siapkan bantuan yang diperlukan," kata Joko.